Sabtu, 29 Juni 2013

“Sugianto stories kidney sellers to redeem certificate child”



Education so expensive in our beloved country, so many Indonesian children do not get the chance to get an education. the government should pay attention to the education of children from poor families who happen. so that they can get a decent education for their future to compete with other developed countries with diverse academic competence and other fields, with bringing the good name of Indonesia in the international arena.
In the case of this week is being widely heard Sugiyanto who intend to sell a kidney to obtain a pass certificate in the name of Shara Ayu Meylanda Ardianingtyas which is none other than his son who became santriwati in Pondok Al-Asiyyah Nurul Iman Parung, Bogor. At that time Sugiyanto need money amounting to Rp 17 million to take the diploma. He deplored school policy because there was no prior agreement that boarding schools charge fees, and can be considered as extortion.
Ayu graduated from junior high school level in 2008. Thus even with a high school degree. He graduated in 2011 plus devotion to alma mater until 2013. He even had time to get an education in college for two months at the cottage.
When pesantren leader died, the rules changed drastically. Then the policy was passed by the wives and children of the deceased head of the boarding school. very ironic when people who understand religion, but withhold the diploma students, how the future of ayu and other children who have the same case. Certainly unethical, and indirectly discredit the school in education.
Previously, Sugiyanto also visited the Ministry of Education and Culture, Ministry of Religious Affairs, and the National Commission on Human Rights, but his efforts were in vain. "They turn a blind eye to this case." When the poor seek justice to fight for their rights, but the government is indifferent.
What only the people who have wealth or power that can be easy to look for justice in this country? "Of course not, because as we know that the Indonesian state based on the principle of democracy. So every person has the right to express their aspirations.
Whatever the reason that is being faced by the foundation, diploma should still be given to students. This could be the basis for certain actions to be provided by the department of education, local government funds will be stopped and other sanctions.
This case must be addressed to prevent the same thing as the action taken Sugiyanto. This should be an evaluation for several parties involved in education and government to pay more attention to a better education system, a form of mutual cooperation teritegrasi well. Because the future of a country is in the hands of the future generation.


Kisah Sugianto Penjual Ginjal Demi Ijazah Anak

Telepon genggam Ayu, 19 tahun, nyaris tidak pernah berhenti berdering. Sudah tak terhitung berapa orang yang menanyakan kondisinya dan sang ayah. Mulai dari wartawan yang ingin memberitakan dirinya, orang yang sekadar ingin mengucapkan simpati, hingga orang yang mengaku ingin benar-benar menawar ginjal sang ayah.

 Tidak hanya itu, sedari pagi, Ayu mengaku sudah memenuhi undangan wawancara dua stasiun televisi swasta. Wartawan dari berbagai media pun tampak silih berganti mengunjungi rumahnya di Jalan Kebon 200, Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat.

Jangan bayangkan Ayu menerima wartawan di sebuah ruang tamu dengan meja dan kursi. Bangunan yang disebutnya rumah sebenarnya adalah sebuah kompleks ruko tempat ayahnya, Sugianto, 45 tahun, membuka lapak jahitan. Ukurannya sekitar 3 x 5 meter persegi. Sebagian ruangan tersebut kemudian disekat untuk kamar tidur. Ruangan itu terkesan lebih sempit sebab dipenuhi mesin jahit, benang jahit, dan beberapa pakaian, baik yang sudah ataupun belum sempat digarap oleh ayahnya.

Setelah aksinya dan sang ayah di Bundaran Hotel Indonesia pada Selasa lalu, 25 Juni 2013, Ayu dan ayahnya mendadak terkenal. Saat itu dia dan ayahnya nekat berorasi sambil membawa tulisan yang isinya sang ayah siap menjual ginjalnya demi menebus ijazah Ayu yang ditahan oleh pihak sekolah.

"Silakan masuk, Mas," sambutnya kepada wartawan, Kamis sore, 27 Juni 2013. Sugianto, yang saat itu sedang menggarap baju salah satu pelanggannya, menghentikan sejenak pekerjaannya.

Sambil sesekali menerima telepon, wanita yang bernama panjang Shara Meylanda Ayu Ardianingtyas ini menceritakan awal mula kejadian sehingga ayahnya nekat menjual ginjal demi ijazah Ayu.

Ayu mengaku mulai masuk Pondok Al-Asiyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, sejak tahun 2005. Saat itu dia baru saja lulus sekolah dasar. "Saya masuk ke sana gratis, semua biaya ditanggung pondok,” ujarnya.

Awalnya, semua berjalan normal. Ayu menamatkan jenjang sekolah menengah pertama pada tahun 2008. Pun demikian dengan jenjang sekolah lanjutan. Dia lulus pada tahun 2011 ditambah pengabdian kepada almamater sampai tahun 2013. Dia bahkan sempat mengenyam bangku kuliah selama dua bulan di pondok tersebut.

Namun Ayu menuturkan bahwa semua mulai berubah pada awal Januari lalu. Pada saat itu, terjadi insiden kekerasan. Hal itu dipicu permasalahan internal. Yang membuat dirinya dan teman-temannya takut, kejadian tersebut terjadi di depan mata para santri. Sejak itu kondisi pondok menjadi mencekam.

Lantaran takut, para santri banyak yang berniat meninggalkan pondok. "Tapi kami tidak boleh, justru kami disuruh membayar ijazah SMP sebesar Rp 7 juta dan ijazah SMA Rp 10 juta," katanya. Alasan pihak pondok, para santri harus menyelesaikan jenjang S-1 dulu baru boleh keluar. Namun, menurut Ayu, peraturan tersebut tidak pernah ada sebelumnya.

Tidak hanya itu, pihak pondok, lanjut Ayu, juga meminta uang pengganti selama Ayu berada di sana. "Mereka mintanya Rp 20 ribu per hari, saya di sana sekitar enam tahun," kata Ayu dengan nada kesal.

Merasa semakin tertekan. Ayu dan beberapa rekannya kemudian memilih kabur dari tempat mereka menuntut ilmu. Kejadian tersebut lalu disampaikannya kepada sang ayah, Sugianto. Tentu saja uang sebanyak itu bukan jumlah yang sedikit bagi Sugianto, yang sehari-hari hanya berpenghasilan tak lebih dari Rp 70 ribu. Apalagi, sejak 12 tahun lalu, Sugianto harus menafkahi dua anaknya sendiri. Istrinya, Ningsih, meninggal saat Ayu masih berusia 5 tahun.

Mereka kemudian mendatangi pondok sampai empat kali. Namun pihak pondok berkeras tetap menahan ijazah Ayu.

Sugianto lalu mengadukan permasalahannya ke berbagai pihak. "Saya ke Komnas HAM sudah, Kemenag juga sudah, dan beberapa instansi lain," ujar Sugianto. Namun jawaban yang didapat Sugianto hanya saran untuk menunggu.

Mulai kehabisan akal, Sugianto akhirnya memilih turun ke jalan. Aksi yang dilakukan Sugianto pun tidak main-main. Dia melakukan orasi dengan membawa tulisan yang intinya dia siap menjual ginjal demi ijazah anaknya. Ginjalnya pun hanya dibanderol seharga ijazah anaknya. "Saya tidak ada niatan mencari sensasi. Kalau memang ada yang menawar seharga itu akan saya berikan asal ijazah Ayu bisa diambil, “katanya.

Sugianto mengaku sadar atas risiko yang akan diterimanya jika ginjalnya benar-benar laku. "Saya rela, kalaupun kesehatan saya menurun juga tidak masalah, “tuturnya.

Aksi pertamanya di RSCM tidak membuahkan hasil, hingga kemudian dia berpindah ke Bundaran Hotel Indonesia. Aksi Sugianto akhirnya mendapat perhatian dari banyak pihak. Berbagai media sontak memberitakan aksinya.

Beberapa orang yang bersimpati pun menawarkan bantuan. Tak hanya bantuan, Sugianto mengaku sudah mendapat telepon dari beberapa orang yang serius menawar ginjalnya.

Sugianto mengaku siap melepas ginjalnya dengan ketentuan yang berlaku. Dia tetap berharap ijazah anaknya bisa diambil. Sebab, menurut dia, masa depan anaknya sangat penting.

Menurut Sugianto, ijazah merupakan salah satu hak anaknya yang tidak bisa begitu saja direnggut. "Sampai kapan pun saya akan tetap mencari keadilan untuk anak saya."

Source: Tempo

Rabu, 29 Mei 2013

Tenses for Toefl


TENSES: Special verb endings or accompanying auxiliary verbs signal the time an event takes palce.
Tenses adalah perubahan bentuk verbs yang disebabkan oleh waktu kejadian. Secara garis besar waktu kejadian dapat dibedakan menjadi PRESENT dan PAST.
Examples:
Susi goes to campus by bus.
Simple PRESENT
I went to Jakarta last week.
Simple PAST


He is reading newspaper.
PRESENT progressive tense
He was reading newspaper.
PAST progressive tense
 Simple Present Tense
1.      Simple present Tense
Berfungsi untuk menceritakan/ menyatakan suatu peristiwa/ kejadian yang bersifat kebiasaan, yang berulang-ulang, yang permanent / terus-menerus (habits, routines, repeated actions, permanent actions, general truth).
Examples:
My sister lives in Jakarta.
(permanent)
My boyfriend comes here every Sunday.
(repeated actions)
The earth goes around the sun.
(general truth)
Subject
Verb

They, we, you, I
Verb-1

He, She, It
Verb+es





Keterangan waktu yang sering dipakai: every, once a day, twice a week, three times a month; always, often, usually, sometimes.
2. Simple Past Tense
Digunakan untuk menyatakan suatu kegiatan/ kejadian yang dilakukan/ terjadi di waktu lampau.
Subject + Verb-2
Setiawan went to Spain last year.
  1. Maria did her work last night.
  2. She was sick yesterday
Keterangan waktu: last ……, …..ago, yesterday, this morning, just now, in 1994, etc.
3. Present Continuous Tense
Present Progressive Tense atau Present Continuous Tense bisa digunakan untuk:
Menceritakan/ menyatakan suatu kegiatan yang sedang berlangsung sekarang ini.
Rita is watching television.
Listen! She is singing a good song.

Menceritakan/ menyatakan suatu kegiatan yang akan terjadi segera.
Subject + to be (is/ am/ are) + Veb-ing
  • Setiawan is leaving for Singapore tomorrow.
  • I am coming to your house soon.
Keterangan waktu : Now, right now, at present, at this moment, for the time being; Listen! Shhh! Look!, etc

4. Past Continuous Tense
Untuk menyatakan suatu kegiatan yang sedang berlangsung di waktu lampau pada saat kejadian/ kegiatan lain terjadi.
S + was / were + V-ing
When + (simple past ), past continuous
Past continuous + when + past tense
  1. The engine was running when it suddenly stopped.
  2. When Rina came home, Susi was watching television.
Untuk menyatakan dua kegiatan yang berlangsung bersamaan di waktu lampau.
(past continuous) + while + (past continuous)
While + (past continuous), + (past continuous)
  1. Rina was watching television while Susi was reading a book.
  2. While Susi was reading a book, Rina was watching television.
5. Simple Future Tense
Digunakan untuk menceritakan/ menyatakan suatu kegiatan yang akan dilakukan di waktu yang akan datang.
S + will/ shall + V1
S + is/ am/ are + going to + V1

Catatan : ‘shall’ = umumnya dipakai untuk subyek ‘I’ dan ‘We’
‘will’ = bisa digunakan untuk semua subyek.
Shall/ will = ‘akan’ yang tidak terencana, akan terjadi bilamana suatu kondisi tertentu terpenuhi.
To be + going to = ‘akan’ yang sudah terencana atau sudah pasti.
  1. I shall meet you tomorrow.
  2. I will go and shut it.
  3. He will come if I ask him.
  4. Look at those black cloud! It is going to rain.
  5. Oh, I feel terrible. I think I am going to be sick.
6. Future Continuous Tense
Untuk menyatakan suatu kegiatan yanga akan sedang berlangsung pada waktu tertentu pada masa yang akan datang.
S + will/ shall + be + V-ing
  1. Football begins at 5.30 and ends at 9.15. Tom will be watching the match at 8.30.
  2. This time next week I will be sailing to Netherland.
Keterangan waktu: this time next ……, at 7 o’clock, tomorrow
7. Present Perfect Tense
Untuk menyatakan suatu kegiatan yang telah selesai dilaksanakan. Atau Untuk menyatakan suatu kegiatan yang dimulai pada masa lampau dan sekarang sudah selesai.
S + have/ has + Verb-3
  1. We have already written our reports.
  2. Rita has already read the entire book.
Keterangn waktu pada pola ini: for, since, already, yet, lately, recently
8. Past Perfect Tense
Untuk menyatakan suatu kegiatan/ tindakan yang telah dilakukan di waktu lampau ketika peristiwa lain juga terjadi . Atau pola ini untuk menjelaskan dua kejadian dimana kejadian pertama mendahului kejadian kedua.
S + had + V3

(Past perfect Tense) + before + (Simple Past Tense)
Rina had gone to the store before she went home.

Before + (Simple Past Tense ), + ( Past perfect Tense )
Before Rina went to campus, she had had her breakfast.

After + (Past perfect Tense ) + ( Simple Past Tense )
After Rina had had her breakfast, she went to campus.

(Simple Past Tense) + After + (Past perfect Tense )
Rina went to campus after she had had her breakfast.

8. Present Perfect Continuous Tense
Digunakan untuk menyatakan suatu kegiatan yang dimulainya pada waktu lampau dan masih berlangsung sampai sekarang.
S + have/ has + been+ V-ing
  1. Gunawan has been working in Bandung for three years.
  2. Over the past few years medical doctors have been searching for a drug to control the AIDS virus.
  3. One of my friends has been working in this company since he graduated.
  4. All these years, Rita’s family has been living in poverty.
9. Past Perfect Continuous Tense
Digunakan untuk menyatakan suatu kegiatan yang telah dilakukan pada waktu lampau dan kegiatan itu terus berlangsung ketika peristiwa/ kegiatan lain juga terjadi. Atau pola kalimat ini untuk menjelaskan dua kejadian dimana kejadian pertama lebih dulu terjadi dan masih berlangsung hingga muncul kejadian kedua.
S + had been + V-ing
  1. Kate had been living in New York for ten years before she moved to Boston.
  2. Setiawan had been working in the electronic company for five years before he got a new job here.
  3. I had been waiting for a bus for twenty minutes when I met Mr. Rudy.
10. Future Perfect Tense
Digunakan untuk menyatakan kegiatan/ aktivitas yang terjadi dan selesai pada saat kegiatan lain berlangsung di waktu yang akan datang.
S + will/ shall + be + V3
By the time we come home, the boys will have finished their homework.
  1. I can lend you the book next week because by the time I will have finished reading it.
  2. By the end of this week, I will have been back from Malaysia.
11. Future Perfect Continuous

Pada dasarnya sama dengan future perfect, hanya saja tense ini lebih menekankan pada saat terjadinya peristiwa. Tense ini umumnya mengisyaratkan suatu peristiwa berdurasi di waktu mendatang.
S + will/ shall + have + been + V-ing
  1. Yuni will have been studying all next week.”
  2. I will have been living here for ten years by the end of this year.

Source: toeflenglish